Bangladesh menghadapi tantangan serius dalam menanggulangi separatisme dan militansi di wilayah Chittagong Hill Tracts (CHT). Upaya pemerintah menegakkan stabilitas regional semakin meningkat seiring munculnya kelompok-kelompok bersenjata baru.
Sejarah mencatat ketegangan etnis di CHT sempat memuncak sebelum Perjanjian Damai 1997. Perselisihan antara minoritas etnis dan komunitas Bengali sempat menimbulkan ketidakpercayaan dan konflik bersenjata.
Perjanjian damai tersebut berhasil menciptakan atmosfer relatif tenang di perbukitan. Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya diterima semua pihak, terutama oleh kelompok-kelompok yang merasa hak mereka terabaikan.
Salah satu organisasi yang muncul kembali adalah Kuki-Chin National Front (KNF). Kelompok ini diklaim mewakili enam etnis kecil di Rangamati dan Bandarban dan menuntut pembentukan negara atau wilayah otonom terpisah.
KNF membentuk sayap bersenjata bernama Kuki-Chin National Army (KNA). Organisasi ini diduga menerima pelatihan militer dari Jamaatul Ansar, kelompok militan Islam yang ingin mendirikan negara Islam di perbatasan Myanmar-Bangladesh.
Kelompok KNF dan KNA memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota baru. Mereka menargetkan pemuda etnis Bawm, Pangkhua, Lushai, Khumi, Mru, dan Khiang untuk memperluas pengaruhnya.
Jumlah anggota KNF relatif kecil, namun keberadaan mereka memicu kekhawatiran pemerintah. Ancaman militan di CHT dapat mengganggu perdamaian, tidak hanya di Bangladesh tetapi juga di perbatasan India.
Selain KNF, muncul organisasi Jamaatul Ansar Fil Hindal Sharqiya yang melatih pemuda di daerah terpencil CHT. Mereka menyediakan logistik, senjata, dan pelatihan bagi calon militan.
Polisi elit Bangladesh, Rapid Action Battalion (RAB), meningkatkan operasi keamanan untuk menangkap anggota kelompok bersenjata. Beberapa operasi baru-baru ini berhasil menangkap 10 militan, termasuk anggota KNF dan Jamaatul Ansar.
Para tersangka mengaku menerima uang dan fasilitas dari KNF sebagai imbalan atas latihan militer dan loyalitas mereka. Hal ini menunjukkan adanya jaringan yang terorganisir untuk mendukung separatisme.
Operasi gabungan di CHT juga menemukan senjata, amunisi, bom, dan publikasi jihad. Barang bukti ini menjadi indikasi nyata bahwa kelompok militan mempersiapkan aksi kekerasan skala lebih besar.
Selain operasi penegakan hukum, pemerintah Bangladesh berupaya menenangkan ketegangan etnis melalui pembangunan sosial dan ekonomi. Komunitas minoritas diberikan fasilitas khusus untuk mengurangi ketidakpuasan.
Perayaan festival seperti Biju, Sangria, dan Baisabi di CHT menunjukkan adanya harmoni antar etnis. Namun, insiden migrasi dan aktivitas militan menciptakan kecemasan di masyarakat.
Sebagian pemuda yang meninggalkan rumah sering menjadi korban manipulasi kelompok militan. Mereka dijanjikan kekuasaan atau kompensasi, tetapi akhirnya terjebak dalam jaringan ekstremis.
RAB menyatakan bahwa kelompok militan memanfaatkan dana untuk membeli senjata berat. Dalam delapan sampai sembilan bulan terakhir, KNF menerima puluhan lakh rupee untuk mendukung kegiatan mereka.
Situasi di perbatasan sangat strategis bagi India dan Bangladesh. Kerusuhan di CHT dapat mengancam keamanan kedua negara sekaligus mengganggu stabilitas regional.
Bangladesh menekankan bahwa perdamaian dan persatuan antar etnis adalah prioritas utama. Semua warga CHT, baik Bengali maupun non-Bengali, diharapkan hidup berdampingan secara harmonis.
Pemerintah menegaskan tidak ada ruang bagi kelompok militan untuk membahayakan masyarakat. Langkah tegas melalui operasi keamanan dan dialog damai menjadi strategi utama.
Bangladesh juga menunjukkan tanggung jawab kemanusiaan, termasuk menampung pengungsi Rohingya dan memulangkan warga minoritas sebelumnya, seperti Chakma. Hal ini menegaskan komitmen negara terhadap hak asasi dan stabilitas.
Pendekatan multi-dimensi ini diyakini dapat memastikan perdamaian berkelanjutan di CHT. Kerjasama dengan India juga penting untuk memerangi ekstremisme lintas perbatasan.
Akhirnya, Bangladesh tetap konsisten dalam menjaga keamanan, mengatasi separatisme, dan memulihkan ketenangan di Chittagong Hill Tracts. Strategi gabungan antara pembangunan sosial dan tindakan tegas diharapkan menjadi model perdamaian regional yang efektif.
No comments