Most Recent

Pawai di Tengah Blokade Hasakah
Aksi pawai dukungan yang digelar milisi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di wilayah utara Hasakah kembali memicu sorotan. Pada hari yang sama ketika warga di sejumlah kawasan Arab dilaporkan menghadapi pembatasan pergerakan dan kesulitan pasokan pangan, iring-iringan massa dengan bendera dan atribut milisi memenuhi jalan-jalan utama di area yang berada di bawah kendali mereka.

Struktur SDF seperti Asyayis masih mengendalikan lapangan pasca perjanjian damai dengan pemerintah Suriah. Kelompok ini masih menerapkan diskriminasi akut pada warga Arab Hasakah.

Menurut laporan lokal, milisi “SDF” mengerahkan pegawai dan para pendukungnya untuk mengikuti pawai dukungan di wilayah kontrolnya. Dalam barisan tersebut tampak bendera YPG, YPJ, dan Partai PYD yang memiliki keterkaitan ideologis dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), serta poster Abdullah Ocalan yang mendominasi panggung simbolik kegiatan itu.

Namun momentum aksi tersebut dinilai tidak sensitif terhadap kondisi sosial di lapangan. Sejumlah wilayah berpenduduk Arab di Hasakah disebut mengalami blokade dan pembatasan distribusi bahan pokok. Dalam situasi seperti itu, perayaan terbuka dengan simbol-simbol kekuatan militer dianggap berpotensi memperdalam jarak psikologis antara otoritas de facto dan komunitas lokal.

Tokoh masyarakat setempat menilai bahwa stabilitas kawasan timur laut Suriah sangat bergantung pada pengelolaan hubungan antar-komunitas. Hasakah dikenal sebagai wilayah majemuk, dihuni oleh Arab, Kurdi, Asyur, dan kelompok lainnya. Setiap tindakan yang terkesan eksklusif atau triumphalist berisiko memicu persepsi marginalisasi di tengah struktur sosial yang rapuh pascakonflik panjang.

Sejumlah pengamat menyebut, dalam konteks krisis kemanusiaan, prioritas seharusnya diarahkan pada jaminan akses pangan dan kebebasan bergerak warga sipil. Pawai dukungan politik atau militer di tengah pembatasan logistik dinilai dapat dibaca sebagai bentuk provokasi simbolik, terutama jika sebagian masyarakat merasa terisolasi.

Situasi ini juga memunculkan pertanyaan tentang kesetaraan ruang publik. Andaikata komunitas Arab ingin menggelar pawai serupa untuk mengekspresikan aspirasi mereka, kondisi blokade dan pembatasan mobilitas membuat hal itu hampir mustahil dilakukan. Ketimpangan dalam hak berekspresi berpotensi memperdalam ketidakpercayaan antar-komunitas.

Di wilayah konflik, simbol memiliki daya ledak yang tidak kalah dari senjata. Bendera, lagu, dan potret tokoh politik sering kali menjadi representasi dominasi. Dalam masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dari perang, simbol-simbol tersebut dapat menimbulkan rasa tertekan bagi kelompok yang merasa tidak terwakili.

Hasakah sendiri masih menghadapi tantangan ekonomi serius. Infrastruktur rusak, akses energi tidak stabil, serta distribusi bahan pokok yang bergantung pada jalur logistik terbatas membuat masyarakat rentan. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan yang lebih inklusif dan berorientasi kemanusiaan dinilai lebih mendesak ketimbang mobilisasi massa.

Fenomena serupa bukan hanya terjadi di timur laut Suriah. Di Suwaida, wilayah yang dikuasai milisi Druze, sekitar 30 ribu warga Badui Arab dilaporkan masih mengungsi dan belum dapat kembali ke rumah mereka. Ketegangan sosial dan persoalan keamanan membuat proses pemulangan berjalan lambat.

Kondisi pengungsian berkepanjangan di Suwaida menjadi pengingat bahwa konflik lokal dapat meninggalkan luka sosial yang dalam. Ketika satu komunitas merasa tidak aman atau terhalang kembali ke tanahnya, rekonsiliasi menjadi semakin sulit diwujudkan. Situasi ini memiliki kemiripan pola dengan ketegangan di Hasakah.

Pengamat politik Suriah menilai bahwa pengelolaan pascakonflik menuntut sensitivitas tinggi terhadap persepsi keadilan. Setiap tindakan yang dianggap mengutamakan satu kelompok di atas kelompok lain dapat memicu reaksi berantai. Dalam masyarakat majemuk, stabilitas tidak hanya ditentukan oleh kontrol keamanan, tetapi juga legitimasi sosial.

Pawai dukungan yang sarat simbol milisi juga menimbulkan pertanyaan mengenai arah tata kelola wilayah. Apakah ruang publik akan terus didominasi simbol-simbol partisan, ataukah ada ruang bagi simbol kebersamaan lintas etnis dan suku? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan masa depan kohesi sosial di Hasakah.

Di tengah persaingan geopolitik yang lebih luas, wilayah timur laut Suriah kerap menjadi arena tarik-menarik kepentingan. Namun dinamika global tersebut tidak boleh mengaburkan kebutuhan dasar warga sipil yang menginginkan keamanan, makanan, dan kebebasan bergerak.

Blokade terhadap wilayah berpenduduk Arab, jika benar terjadi secara sistematis, berpotensi memperkuat narasi diskriminasi. Narasi seperti ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai aktor untuk memperkeruh situasi dan menghambat proses stabilisasi jangka panjang.

Sebaliknya, langkah-langkah deeskalatif seperti membuka akses logistik, menjamin distribusi pangan, dan memberikan ruang ekspresi setara bagi semua komunitas dapat menjadi fondasi membangun kembali kepercayaan. Kepercayaan inilah yang selama ini menjadi komoditas paling langka di wilayah konflik Suriah.

Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa pendekatan keamanan semata tidak cukup. Rekonsiliasi memerlukan kebijakan yang mengakui keragaman sosial dan memastikan tidak ada kelompok yang merasa ditundukkan secara simbolik maupun praktis.

Di Hasakah, sensitivitas antar-etnis telah lama menjadi isu laten. Setiap kebijakan atau aksi massa yang mengedepankan identitas tunggal berisiko menyalakan kembali bara ketegangan yang belum sepenuhnya padam.

Sementara itu, ribuan warga yang terdampak pembatasan tetap menunggu solusi konkret. Bagi mereka, stabilitas bukan soal pawai atau slogan, melainkan tentang ketersediaan roti di meja makan dan jaminan keselamatan keluarga.

Jika tujuan utama adalah menjaga kendali dan stabilitas wilayah, maka pendekatan yang lebih inklusif dan empatik menjadi kebutuhan mendesak. Menghindari provokasi simbolik di tengah krisis kemanusiaan dapat menjadi langkah awal meredakan ketegangan.

Pada akhirnya, masa depan Hasakah akan sangat ditentukan oleh kemampuan para pemangku kepentingan untuk menahan diri dan memprioritaskan kepentingan warga sipil. Di tengah blokade dan pengungsian, pesan paling kuat bukanlah iring-iringan bendera, melainkan komitmen nyata pada keadilan dan kemanusiaan.

Admin2 Wednesday, February 11, 2026
Ababil dan Wajah Baru Pertahanan Suriah


Sistem pertahanan udara Ababil mulai menarik perhatian publik setelah pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Suriah yang menyebutnya sebagai pencapaian nasional murni. Klaim ini menempatkan Ababil bukan sekadar sebagai alat militer, tetapi sebagai simbol perubahan arah pertahanan negara pascakonflik panjang.

Ababil diposisikan sebagai bagian dari payung pertahanan udara Suriah yang berlapis dikembangkan pada era Uni Soviet. Dalam struktur tersebut, sistem ini tidak berada di level strategis jarak jauh, melainkan di lapisan bawah yang bersifat taktis dan protektif terhadap ancaman modern.

Lapisan bawah pertahanan udara selama ini menjadi titik lemah banyak negara, termasuk Suriah. Serangan drone, rudal jelajah rendah, dan munisi presisi murah kerap lolos dari sistem besar yang dirancang untuk target konvensional.

Di sinilah Ababil mengambil peran. Sistem ini dirancang untuk menghadapi ancaman udara jarak dekat hingga menengah, terutama target kecil dan cepat yang sulit dilacak oleh radar konvensional jarak jauh.

Berbeda dengan sistem seperti S-200 atau S-300 yang berfungsi sebagai tameng strategis, Ababil ditujukan untuk melindungi objek vital. Bandara, pangkalan militer, instalasi energi, dan pusat pemerintahan menjadi sasaran utama perlindungannya.

Klaim pengembangan Ababil oleh ilmuwan dan insinyur Suriah memberi dimensi baru dalam narasi militer negara tersebut. Di tengah sanksi dan keterbatasan akses teknologi di masa lalu, kemampuan merancang sistem pertahanan sendiri dianggap sebagai lompatan penting.

Secara teknis, spesifikasi detail Ababil tidak diumumkan ke publik. Namun indikasi yang beredar menunjukkan bahwa sistem ini mengandalkan kombinasi radar lokal dan sensor optik untuk mendeteksi target udara rendah.

Ababil juga diduga mengusung konsep mobilitas tinggi. Dengan kemampuan dipindahkan dan dikerahkan cepat, sistem ini dapat menyesuaikan diri dengan dinamika medan Suriah yang luas dan beragam.

Jika dibandingkan dengan Pantsir-S1 buatan Rusia, Ababil berada di kelas yang lebih sederhana. Pantsir menawarkan teknologi canggih dan jangkauan lebih luas, tetapi bergantung pada rantai pasok luar negeri.

Ababil justru menonjol dalam aspek keberlanjutan. Dengan desain lokal, perawatan dan modifikasi dapat dilakukan tanpa ketergantungan penuh pada mitra asing, sebuah faktor krusial di bawah tekanan sanksi.

Dibandingkan sistem Iran seperti Ya Zahra atau Khordad, Ababil menunjukkan filosofi serupa dalam kemandirian. Namun Damaskus menegaskan bahwa sistem ini bukan salinan, melainkan hasil pengalaman tempur Suriah sendiri.

Pengalaman menghadapi serangan udara presisi selama bertahun-tahun diyakini membentuk desain Ababil. Sistem ini disebut disesuaikan dengan pola ancaman nyata, bukan skenario teoritis.

Aspek politik Ababil tak kalah penting dari sisi militernya. Penyebutan “anak-anak revolusi Suriah” dalam pengembangannya mencerminkan upaya membangun legitimasi nasional baru.

Narasi ini mengarah pada penyatuan kembali unsur teknokrat dan militer lintas latar belakang. Teknologi pertahanan dijadikan simbol rekonsiliasi dan pembangunan negara, bukan sekadar alat kekerasan.

Keputusan pemerintah untuk tidak menjual atau mengekspor Ababil mempertegas posisinya sebagai aset strategis. Sistem ini diperlakukan sebagai bagian dari kedaulatan, bukan komoditas ekonomi.

Penolakan ekspor juga terkait perlindungan rahasia manufaktur dan hak kekayaan intelektual. Dalam konteks pertahanan udara, kebocoran desain dapat dengan cepat mengurangi efektivitas sistem.

Langkah ini sekaligus menegaskan kehati-hatian Damaskus di tengah persaingan regional. Menyebarkan teknologi pertahanan dinilai berisiko memicu tekanan politik baru.

Secara militer, Ababil tidak dimaksudkan untuk mengubah keseimbangan kekuatan regional. Fungsinya lebih bersifat defensif, menutup celah yang selama ini dieksploitasi oleh serangan udara modern.

Namun secara strategis, keberadaan Ababil mengirim pesan penting. Suriah ingin dipandang sebagai negara yang mampu bertahan dan beradaptasi, bukan sekadar penerima bantuan militer.

Sistem ini juga mencerminkan perubahan doktrin. Fokus bergeser dari dominasi senjata berat menuju perlindungan efektif terhadap ancaman asimetris.

Dengan Ababil, Suriah tampaknya membangun fondasi pertahanan yang lebih realistis. Bukan untuk pamer kekuatan, melainkan untuk menjaga ruang udara dari ancaman yang paling sering datang.

Di tengah keterbatasan dan tekanan geopolitik, Ababil menjadi penanda fase baru. Ia bukan sistem sempurna, tetapi mencerminkan upaya Suriah merumuskan kembali arti kedaulatan dan pertahanan nasional.

Admin2 Sunday, February 8, 2026
Strategi Militer Jenius Sang Arsitek Tentara Baru Suriah
Meskipun jarang tampil di hadapan kamera jika dibandingkan dengan Menteri Pertahanan Mayor Jenderal Murhaf Abu Qasra, sosok Mayor Jenderal Ali Noureddine al-Naasan telah membuktikan kelasnya. Sejak menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat Suriah, ia berhasil membawa militer yang baru terbentuk ini meraih berbagai pencapaian lapangan yang luar biasa. 

Kepemimpinannya yang tenang namun tegas di kursi pimpinan staf militer memberikan warna baru bagi stabilitas keamanan nasional. Dalam waktu yang relatif singkat, ia mampu menerjemahkan visi politik pemerintah ke dalam strategi tempur yang efektif dan efisien.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh al-Naasan adalah proses integrasi faksi-faksi oposisi lama yang sebelumnya memiliki sejarah perselisihan panjang. Banyak pengamat internasional awalnya meragukan kemampuan kepemimpinan militer Suriah dalam menyatukan kelompok-kelompok yang berseberangan ini ke bawah satu komando. 

Namun, melalui pendekatan disiplin tinggi dan manajemen organisasi yang tertata, al-Naasan sukses melebur mereka di bawah payung Kementerian Pertahanan. 

Keberhasilan ini menciptakan kondisi internal tentara yang stabil dan jauh dari gejolak perpecahan yang sempat dikhawatirkan banyak pihak.

Keberhasilan konsolidasi internal ini segera berdampak pada performa tempur tentara di berbagai front strategis di seluruh penjuru negeri. Militer Suriah di bawah komandonya berhasil mengamankan wilayah-wilayah krusial, terutama di sepanjang garis pantai Mediterania yang menjadi urat nadi ekonomi. 

Selain itu, operasi pembersihan di wilayah gurun atau Badia juga menunjukkan progres yang signifikan dalam menekan ancaman sisa-sisa kekuatan lama.

Kelompok-kelompok militan yang sempat bersembunyi di wilayah terpencil kini semakin terjepit oleh pergerakan pasukan yang terkoordinasi dengan baik.

Pencapaian paling monumental yang dicatatkan oleh al-Naasan sejauh ini adalah operasi militer kilat di wilayah timur Suriah. Dalam sebuah manuver strategis yang mengejutkan banyak pihak, militer berhasil merebut kembali lebih dari sembilan puluh persen wilayah yang sebelumnya dikuasai kelompok SDF.

Operasi ini tidak hanya dinilai sukses secara teritorial, tetapi juga dipuji karena mampu meminimalisir jatuh korban di kalangan warga sipil. Ketepatan strategi yang diterapkan al-Naasan membuat kekuatan lawan mengalami demoralisasi dan kehancuran struktural dalam waktu yang sangat singkat.

Kemenangan telak di timur tersebut pada akhirnya memaksa pihak lawan untuk menyerah dan duduk di meja perundingan dengan posisi tawar yang lemah. Hal ini berujung pada penandatanganan kesepakatan bersejarah pada 30 Januari yang mengatur tentang integrasi total kekuatan militer ke dalam struktur pemerintah. 

Peristiwa ini dianggap sebagai akhir dari dualisme kekuasaan militer yang selama ini menghambat persatuan nasional Suriah. Kesepakatan tersebut sekaligus menjadi pengakuan de facto atas keunggulan strategi militer yang dirancang oleh sang Jenderal di lapangan.

Al-Naasan dikenal sebagai perwira yang lebih banyak bekerja di balik layar daripada mengumbar pernyataan politik di media massa. Gaya kepemimpinannya yang teknokratis membuat instruksi militer berjalan tanpa gangguan hiruk-pikuk opini publik yang seringkali membingungkan. Ia berhasil membangun sistem militer yang profesional, di mana loyalitas prajurit diarahkan sepenuhnya kepada kedaulatan negara dan konstitusi. Langkah-langkah taktisnya seringkali tidak terduga namun memberikan dampak sistemik yang melumpuhkan perlawanan kelompok pemberontak secara permanen.

Transformasi tentara Suriah dari sekadar kumpulan faksi menjadi militer reguler yang solid merupakan warisan penting dari periode jabatannya. Masyarakat kini mulai merasakan dampak dari keamanan yang lebih terjamin berkat patroli dan kontrol wilayah yang lebih terstruktur.

Stabilitas di wilayah pesisir telah memungkinkan roda ekonomi lokal kembali berputar setelah bertahun-tahun terhenti akibat konflik bersenjata.

Keberaniannya dalam mengambil keputusan sulit di saat-saat kritis telah menyelamatkan banyak nyawa dan infrastruktur penting negara.

Meskipun proses integrasi mantan pejuang oposisi belum sepenuhnya selesai secara administratif, fondasi yang diletakkan al-Naasan sudah sangat kuat.

Ia memastikan bahwa setiap elemen yang bergabung harus melewati penyaringan ketat dan pelatihan ulang agar sesuai dengan standar militer nasional. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya ideologi ekstremis ke dalam barisan tentara yang dapat merusak moralitas pasukan di masa depan. Pengawasan yang ketat dan sistem penghargaan bagi prajurit yang berprestasi menjadi kunci sukses kedisiplinan yang ia terapkan.

Kini mata dunia tertuju pada bagaimana al-Naasan akan melanjutkan konsolidasi ini di wilayah-wilayah yang baru saja dibebaskan. Tantangan berikutnya adalah menjaga stabilitas jangka panjang dan memastikan bahwa kesepakatan damai tidak hanya sekadar dokumen di atas kertas. Dukungan penuh dari Kementerian Pertahanan memberikan ruang gerak yang luas bagi sang Jenderal untuk terus berinovasi dalam taktik militer modern.

Keberhasilannya sejauh ini telah menempatkan namanya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah militer Suriah modern.

Kekuatan militer yang dipimpin al-Naasan kini menjadi pilar utama dalam menjaga kedaulatan Suriah dari intervensi asing yang merongrong. Dengan wilayah yang semakin terkendali, fokus militer kini mulai bergeser pada peningkatan kapasitas pertahanan udara dan intelijen. Perjalanan menuju perdamaian total memang masih panjang, namun langkah-langkah yang diambil sang Kepala Staf telah memberikan harapan baru. Suriah kini memiliki sosok pemimpin militer yang mampu menyatukan perbedaan demi tujuan luhur bangsa dan negara yang lebih aman.

Admin2 Thursday, February 5, 2026
Warga Hasakah Suriah Tuntut Negara Hadir Tindak SDF

Sebuah pernyataan resmi yang beredar luas di Al-Hasakah, Suriah, mencerminkan meningkatnya ketegangan antara warga sipil dan kelompok bersenjata non-negara di wilayah tersebut. Dokumen itu disampaikan oleh aktivis dan komunitas masyarakat setempat sebagai bentuk protes terbuka terhadap tindakan kekerasan dan penangkapan yang menimpa warga sipil.

Dalam pernyataan itu, masyarakat Al-Hasakah menegaskan bahwa mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk kembalinya hukum dan kedaulatan negara secara utuh. Kembalinya institusi nasional dan pasukan keamanan Suriah dipandang sebagai momen penting yang lama dinantikan setelah masa panjang ketidakpastian.

Euforia warga saat menyambut aparat negara digambarkan sebagai luapan harapan akan kehidupan yang lebih aman dan tertib. Bagi banyak warga, kehadiran negara diyakini sebagai awal dari berakhirnya praktik kekuasaan bersenjata yang selama ini dirasakan menekan kehidupan sipil.

Namun, harapan tersebut berubah menjadi kemarahan setelah terjadi insiden kekerasan. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa kelompok SDF dan milisi afiliasinya melakukan penyerangan brutal terhadap warga sipil yang merayakan kembalinya institusi negara.

Warga juga melaporkan adanya penangkapan terhadap puluhan pemuda dan aktivis. Penangkapan itu, menurut pernyataan tersebut, dilakukan semata-mata karena mereka mengekspresikan dukungan terhadap pasukan keamanan dalam negeri dan simbol-simbol kedaulatan negara.

Tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kebebasan sipil dan hak dasar warga. Masyarakat menilai bahwa kekerasan terhadap warga yang tidak bersenjata memperlihatkan rapuhnya jaminan keamanan di tengah proses transisi yang sedang berlangsung.

Dalam dokumen itu, kritik tajam diarahkan kepada pemerintah Suriah. Warga menuntut agar pemerintah tidak bersikap pasif atau sekadar menjadi penonton ketika pendukung dan warganya sendiri menjadi korban kekerasan dan penahanan sewenang-wenang.

Masyarakat menekankan bahwa kedaulatan negara tidak cukup diwujudkan dengan pengibaran bendera atau kehadiran simbol formal semata. Menurut mereka, kedaulatan sejati hanya bermakna jika negara mampu melindungi warga yang berlindung di bawah bendera tersebut.

Pernyataan itu juga menolak segala bentuk kesepakatan keamanan yang mengabaikan keselamatan warga sipil. Masyarakat Hasakah menilai bahwa perjanjian apa pun tidak akan memiliki legitimasi jika mengorbankan kebebasan dan keamanan rakyat.

Isu pembebasan tahanan menjadi salah satu tuntutan utama. Warga mendesak pemerintah Suriah untuk segera turun tangan membebaskan semua pemuda dan aktivis yang ditahan, serta menghentikan praktik penangkapan tanpa dasar hukum yang jelas.

Selain itu, mereka menuntut jaminan kebebasan bergerak dan berpendapat bagi seluruh warga. Menurut pernyataan tersebut, rasa aman tidak mungkin terwujud selama warga masih takut mengekspresikan sikap politik atau sosialnya.

Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran politik di tingkat lokal. Warga tidak hanya menuntut keamanan fisik, tetapi juga penghormatan terhadap martabat dan hak-hak sipil sebagai warga negara.

Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan tersebut menunjukkan adanya jurang kepercayaan antara masyarakat sipil dan struktur kekuasaan bersenjata non-negara. Jurang ini semakin tampak ketika warga secara terbuka menyatakan loyalitasnya kepada institusi negara.

Masyarakat Hasakah juga memberi peringatan bahwa kesabaran publik memiliki batas. Mereka menilai bahwa penundaan dan ketidakjelasan sikap pemerintah hanya akan memperburuk situasi di lapangan.

Nada pernyataan itu menggambarkan urgensi tindakan nyata. Warga menuntut langkah konkret, bukan sekadar janji atau pernyataan politik, untuk memulihkan wibawa hukum dan rasa aman.

Dokumen tersebut sekaligus menjadi ujian bagi pemerintah Suriah dalam fase transisi ini. Keberhasilan atau kegagalan merespons tuntutan warga akan sangat menentukan tingkat kepercayaan publik di wilayah timur laut.

Pengamat menilai bahwa Hasakah kini menjadi indikator penting bagi proses konsolidasi negara. Cara pemerintah menangani keluhan warga sipil akan menjadi preseden bagi wilayah lain dengan dinamika serupa.

Di tengah kompleksitas keamanan dan politik, pernyataan warga Hasakah memperlihatkan bahwa masyarakat sipil ingin menjadi subjek, bukan objek, dalam proses penataan ulang kekuasaan.

Mereka menuntut negara hadir tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pelindung nyata dari kekerasan dan kesewenang-wenangan. Harapan ini menjadi benang merah dari seluruh isi pernyataan.

Pada bagian penutup, dokumen tersebut menegaskan kembali komitmen warga terhadap persatuan nasional. Pernyataan diakhiri dengan slogan yang mencerminkan aspirasi kolektif mereka, “Hidup Suriah, dan hiduplah rakyatnya yang aman dan mulia.”

Seruan ini menandai babak baru dalam relasi antara warga Hasakah dan negara, di mana tuntutan keamanan, keadilan, dan martabat menjadi pusat dari harapan masyarakat terhadap masa depan Suriah.

Admin2 Monday, February 2, 2026
Warga Suriah Minta SDF Terus Terang Jumlah Korban Arab yang Dieksekusi PKK

Konflik yang berlangsung antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan berbagai faksi di Suriah timur serta pemerintah transisi terus menarik perhatian publik dan media internasional karena dampak kemanusiaannya yang mendalam. Bentrokan antara SDF dan pasukan pemerintah dalam beberapa bulan terakhir menimbulkan korban di kedua belah pihak dan memicu perdebatan luas tentang angka sebenarnya. 

Laporan pemantau perang independen seperti Syrian Observatory for Human Rights mencatat sekitar 1.000 kombatan tewas di kedua belah pihak dalam bentrokan sejak awal Januari 2026, angka ini mencakup korban dari SDF dan Tentara Arab Suriah yang saling berhadapan di beberapa front konflik. 

Namun, di media sosial dan dalam sejumlah narasi partisan, muncul klaim bahwa jumlah korban yang “sebenarnya” jauh lebih tinggi — bahkan disebut mencapai 8.000 tewas. Klaim ini sering dibagikan oleh kalangan pendukung SDF sendiri, namun tidak didukung oleh data pemantau independen atau laporan resmi international.

Beberapa pihak yang menyebarkan angka besar itu tampaknya menggabungkan berbagai jenis kematian — termasuk non‑kombatan, korban kecelakaan, orang hilang, dan laporan yang belum terverifikasi — sehingga angka totalnya menjadi hiperbolik dan sulit diverifikasi.

Ada dugaan bahwa angka 8.000 ini bukan merujuk pada jumlah tentara pemerintah Suriah yang tewas, tetapi bisa jadi mengacu pada jumlah anggota SDF dari kelompok etnis Arab yang ditembak mati oleh PKK pengendali SDF setelah ketahuan membelot, menyerah, atau berpindah pihak selama konflik. Rumor ini tersebar di komunitas daring yang pro‑SDF dan komunitas pendukung Kurdi.

Namun, sampai sekarang tidak ada laporan resmi dari lembaga internasional, PBB, atau lembaga seperti SOHR yang mengonfirmasi jumlah orang Arab dalam SDF yang tewas karena dibunuh oleh SDF sendiri. 

Menurut laporan analisis konflik yang tersedia, sejumlah pejuang Arab yang berada di bawah komando SDF memang telah melakukan defection (pembelotan) ke pihak pemerintah atau kelompok lain, terutama saat dorongan massal dari berbagai kepala suku Arab untuk mendukung pemerintah.

Misalnya, di wilayah Aleppo dan Deir ez‑Zor, beberapa anggota SDF yang berasal dari suku Arab dilaporkan meninggalkan posisi mereka dan memilih untuk menyerah kepada aparat pemerintah atau bergabung dengan kelompok lokal yang bersekutu dengan Damaskus. 

Laporan semacam itu memperlihatkan dinamika konflik yang lebih kompleks di Suriah timur, di mana loyalitas sering berubah karena tekanan militer, kondisi ekonomi, dan ketegangan internal antara unit milisi Kurdi dan anggota Arab mereka sendiri. 

Meskipun ada desas‑desus seputar pembelotan itu, jumlahnya relatif kecil, seperti laporan yang menyebut “sekitar 20 anggota SDF yang membelot ke pemerintah di Aleppo” — angka yang jauh dari ribuan yang diklaim dalam narasi 8.000. 

Perlu dipahami bahwa SDF adalah koalisi faksi yang kompleks, terdiri dari pejuang Kurdi, Arab, dan kelompok etnis lain yang memiliki motivasi berbeda saat perang sipil Suriah berkembang sejak 2011. Kebanyakan keputusan individu pejuang untuk berpindah pihak biasanya bersifat lokal dan tidak terkoordinasi secara besar‑besaran. 

Dalam bentrokan militer aktual di garis depan antara pasukan pemerintah dan unit SDF yang masih bertahan, jumlah tewas yang dilaporkan oleh pemantau konflik tetap berada pada ratusan hingga beberapa ribu gabungan, bukan angka puluhan ribu. 

Klaim angka 8.000 sering kali muncul tanpa konteks waktu yang jelas, sehingga diduga besar kemungkinan analisis itu mencampurkan angka dari periode konflik yang lebih panjang atau memasukkan kelompok yang berbeda secara operasional.

Karena ketidakpastian data di kawasan konflik Suriah, media internasional dan lembaga pemantau biasanya berhati‑hati ketika mengutip angka korban, sering kali menyebutkan angka perkiraan yang bisa berbeda antara sumber satu dan lainnya.

Terlepas dari kontroversi angka, isu pembelotan anggota SDF dari kalangan Arab menyoroti tekanan internal yang dihadapi koalisi tersebut dalam mempertahankan kesatuan etnis dan loyalitas struktural, terutama saat menghadapi tekanan militer dari pemerintah Suriah dan kesepakatan integrasi yang baru dicapai. 

Di masa depan, jika narasi tentang jumlah besar anggota SDF yang tewas benar adanya, ini dapat membuka kebutuhan bagi pemerintah Suriah yang baru atau lembaga independen untuk melakukan investigasi menyeluruh, khususnya terkait tuduhan eksekusi terhadap anggota Arab yang membelot beserta keluarganya. 

Investigasi semacam itu akan penting untuk membangun akuntabilitas dan rekonsiliasi nasional, terutama di daerah‑daerah dengan populasi Arab yang merasa terpinggirkan atau menjadi korban dari tindakan milisi yang tidak diawasi secara ketat.

Pemerintah transisi Suriah yang kini mulai mendapatkan kontrol penuh atas wilayah timur laut ini telah mengumumkan niatnya untuk meninjau seluruh kasus tahanan yang ditinggalkan SDF, termasuk status hukuman dan potensi pelanggaran HAM yang terjadi di fasilitas penahanan sebelumnya. 

Namun sampai teknik investigasi itu benar‑benar dijalankan dan hasilnya dipublikasikan secara transparan, klaim besar seperti 8.000 tewas tetap menjadi isu yang harus diperlakukan dengan kehati‑hatian, menanti bukti faktual dan verifikasi dari lembaga independen.

Bagi masyarakat Suriah yang telah melewati konflik panjang, kejelasan semacam itu bukan hanya soal angka, tetapi juga soal keadilan dan masa depan damai dalam membangun kembali negara pascaperang.

Demonstrasi di Sarrin Tuntut Jenazah Tahanan

Sejumlah warga menggelar demonstrasi di kota Sarrin, pinggiran timur provinsi Aleppo, menuntut diserahkannya jenazah tahanan yang diduga tewas di tangan milisi SDF yang terkait dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di kota Ain al-Arab (Kobane). Aksi itu terlihat melalui foto-foto yang beredar di media sosial.

Para peserta demonstrasi membawa spanduk dan poster yang menuntut pengungkapan nasib para tahanan sebelumnya dan penyerahan jenazah kepada keluarga mereka. Tuntutan ini menekankan keresahan warga Arab lokal terhadap dugaan eksekusi yang dilakukan oleh milisi yang mengendalikan wilayah tersebut.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak SDF atau otoritas lain yang menjelaskan secara rinci kronologi kejadian, jumlah korban tewas, atau identitas mereka. 

Demonstrasi ini menunjukkan ketidakpercayaan warga terhadap milisi yang menguasai wilayah mereka, sekaligus menyoroti ketegangan etnis dan politik yang masih berlangsung antara SDF dan komunitas Arab setempat. Aksi protes warga Arab ini juga menjadi refleksi dari tekanan yang dirasakan masyarakat sipil selama konflik yang berkepanjangan.

Sementara itu, pengamat menilai bahwa isu pengembalian jenazah dan transparansi nasib tahanan menjadi salah satu langkah penting untuk membangun kepercayaan kembali antara warga lokal dan pihak penguasa, serta mencegah potensi eskalasi konflik di wilayah timur laut Suriah.

Admin2 Saturday, January 31, 2026
Pornografi sebagai Senjata Psikologis Intelijen AS
Sebuah laporan investigatif mengungkap praktik kontroversial yang digunakan aparat intelijen Amerika Serikat selama operasi militer di Irak, yakni pemanfaatan materi pornografi sebagai alat tekanan psikologis terhadap para tahanan. Praktik ini terungkap melalui dokumen bocoran yang kemudian dilaporkan media investigatif The Intercept dan dihimpun kembali oleh lembaga pemantau media independen, Project Censored.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa seorang staf Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) yang ditugaskan di Irak memimpin tim kontra-intelijen yang bertugas memeriksa perangkat elektronik hasil penyitaan dari berbagai operasi militer. Perangkat itu mencakup komputer, CD, ponsel, hingga radio komunikasi yang diambil langsung dari medan perang.

Dalam proses pemeriksaan digital, tim tersebut mengklaim menemukan campuran konten yang beragam, mulai dari video pornografi, ribuan file audio Al-Qur’an dan ceramah keagamaan, hingga materi propaganda dan pelatihan kelompok bersenjata. Secara sinis, temuan itu dijuluki sebagai “tiga P”, yakni porn, propaganda, and prayer.

Menurut laporan, materi pornografi tersebut kemudian dianggap “sangat berguna” oleh aparat interogator, khususnya pasukan khusus AS. Pornografi digunakan untuk menekan psikologis tahanan Irak yang mengaku sebagai Muslim taat dan menolak invasi AS di Irak, namun disebut memiliki atau pernah menyimpan konten tersebut di perangkat mereka.

Pendekatan ini bertujuan merusak ketahanan mental dan identitas keagamaan para tahanan. Dengan mempertontonkan atau menyinggung konten yang dianggap haram dan memalukan dalam Islam, interogator berharap tahanan menjadi lebih mudah diintimidasi, ditekan, atau dipaksa memberikan pengakuan.

Praktik tersebut menimbulkan kontroversi serius karena dinilai melanggar prinsip perlakuan manusiawi terhadap tahanan, terlepas dari status bersalah atau tidaknya mereka. Laporan itu juga menyoroti ketidakjelasan asal-usul materi pornografi tersebut, apakah benar milik para tahanan atau justru dimasukkan setelah penyitaan.

Penggunaan pornografi dalam konteks interogasi bukanlah hal baru dalam operasi intelijen AS. Seorang mantan interogator di pusat penahanan Guantanamo Bay mengungkapkan bahwa metode serupa pernah diterapkan, baik sebagai bentuk “imbalan” bagi sebagian tahanan maupun sebagai alat tekanan bagi yang lain.

Project Censored menyoroti minimnya pemberitaan media arus utama mengenai praktik-praktik tersebut. Hingga laporan itu diterbitkan, The Intercept disebut sebagai satu-satunya media besar yang mengulasnya secara mendalam, meskipun isu tersebut menyangkut pelanggaran etika serius dalam operasi keamanan.

Kondisi ini memunculkan kritik terhadap pola sensor struktural di media Barat, di mana informasi yang berpotensi merusak citra aparat keamanan cenderung diabaikan atau dipinggirkan. Padahal, praktik perang psikologis berbasis agama memiliki implikasi luas terhadap hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional.

Laporan ini memperlihatkan bahwa konflik modern tidak hanya berlangsung melalui senjata dan teknologi militer, tetapi juga melalui manipulasi psikologis yang menyasar identitas, keyakinan, dan martabat manusia. Isu tersebut sekaligus membuka kembali perdebatan lama mengenai batas etika dalam operasi intelijen di tengah perang global melawan terorisme.

Irak dan sejumlah negara di Timur Tengah sejatinya telah masuk dalam radar strategis Amerika Serikat sejak awal 1990-an, jauh sebelum invasi militer resmi dilakukan. Setelah Perang Teluk 1991, kawasan ini dipandang sebagai kawasan yang berpotensi makmur dan tak mudah diintimidasi oleh hegemoni AS dkk, terutama terkait keamanan Israel dalam melakukan tindak genosida di Palestina, energi, dan dominasi politik global AS di Timur Tengah.

Salah satu dokumen yang kerap disebut dalam konteks ini adalah “A Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm”, sebuah memo kebijakan yang disusun pada 1996 oleh kelompok analis strategis AS untuk kepentingan pemerintahan Israel. Dokumen tersebut mendorong perubahan rezim di Irak dkk serta melemahkan Suriah dan aktor regional lain yang dianggap menghambat tatanan keamanan baru di kawasan.

Memasuki awal 2000-an, arah serupa kembali muncul dalam berbagai memo dan dokumen internal Pentagon. Sejumlah pejabat pertahanan AS secara terbuka mengakui bahwa Irak, Iran, Suriah, Libya, dan beberapa negara lain telah masuk daftar prioritas strategis, bahkan sebelum serangan 11 September 2001. Hal ini menunjukkan bahwa agenda intervensi dan pembunuhan massal kepada warga Arab di Timur Tengah dengan bermacam dalih telah disiapkan lebih awal.

Invasi Irak pada 2003 kemudian dipandang banyak analis sebagai realisasi dari kerangka kebijakan jangka panjang tersebut. Narasi senjata pemusnah massal dan perang melawan teror dianggap sebagai legitimasi publik, sementara tujuan strategis yang lebih dalam telah dirumuskan sejak satu dekade sebelumnya melalui dokumen perencanaan keamanan dan pertahanan.

Dengan demikian, Irak dan negara-negara lain di kawasan tidak dapat dilihat semata sebagai target situasional pasca-9/11. Mereka merupakan bagian dari desain geopolitik jangka panjang Amerika Serikat yang dibangun sejak 1990-an, melalui kombinasi dokumen kebijakan, memo pertahanan, dan kalkulasi strategis yang terus berkembang hingga awal abad ke-21.

Admin2 Wednesday, January 28, 2026
Bangladesh Perketat Penanganan Separatisme dan Militan
Bangladesh menghadapi tantangan serius dalam menanggulangi separatisme dan militansi di wilayah Chittagong Hill Tracts (CHT). Upaya pemerintah menegakkan stabilitas regional semakin meningkat seiring munculnya kelompok-kelompok bersenjata baru.

Sejarah mencatat ketegangan etnis di CHT sempat memuncak sebelum Perjanjian Damai 1997. Perselisihan antara minoritas etnis dan komunitas Bengali sempat menimbulkan ketidakpercayaan dan konflik bersenjata.

Perjanjian damai tersebut berhasil menciptakan atmosfer relatif tenang di perbukitan. Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya diterima semua pihak, terutama oleh kelompok-kelompok yang merasa hak mereka terabaikan.

Salah satu organisasi yang muncul kembali adalah Kuki-Chin National Front (KNF). Kelompok ini diklaim mewakili enam etnis kecil di Rangamati dan Bandarban dan menuntut pembentukan negara atau wilayah otonom terpisah.

KNF membentuk sayap bersenjata bernama Kuki-Chin National Army (KNA). Organisasi ini diduga menerima pelatihan militer dari Jamaatul Ansar, kelompok militan Islam yang ingin mendirikan negara Islam di perbatasan Myanmar-Bangladesh.

Kelompok KNF dan KNA memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota baru. Mereka menargetkan pemuda etnis Bawm, Pangkhua, Lushai, Khumi, Mru, dan Khiang untuk memperluas pengaruhnya.

Jumlah anggota KNF relatif kecil, namun keberadaan mereka memicu kekhawatiran pemerintah. Ancaman militan di CHT dapat mengganggu perdamaian, tidak hanya di Bangladesh tetapi juga di perbatasan India.

Selain KNF, muncul organisasi Jamaatul Ansar Fil Hindal Sharqiya yang melatih pemuda di daerah terpencil CHT. Mereka menyediakan logistik, senjata, dan pelatihan bagi calon militan.

Polisi elit Bangladesh, Rapid Action Battalion (RAB), meningkatkan operasi keamanan untuk menangkap anggota kelompok bersenjata. Beberapa operasi baru-baru ini berhasil menangkap 10 militan, termasuk anggota KNF dan Jamaatul Ansar.

Para tersangka mengaku menerima uang dan fasilitas dari KNF sebagai imbalan atas latihan militer dan loyalitas mereka. Hal ini menunjukkan adanya jaringan yang terorganisir untuk mendukung separatisme.

Operasi gabungan di CHT juga menemukan senjata, amunisi, bom, dan publikasi jihad. Barang bukti ini menjadi indikasi nyata bahwa kelompok militan mempersiapkan aksi kekerasan skala lebih besar.

Selain operasi penegakan hukum, pemerintah Bangladesh berupaya menenangkan ketegangan etnis melalui pembangunan sosial dan ekonomi. Komunitas minoritas diberikan fasilitas khusus untuk mengurangi ketidakpuasan.

Perayaan festival seperti Biju, Sangria, dan Baisabi di CHT menunjukkan adanya harmoni antar etnis. Namun, insiden migrasi dan aktivitas militan menciptakan kecemasan di masyarakat.

Sebagian pemuda yang meninggalkan rumah sering menjadi korban manipulasi kelompok militan. Mereka dijanjikan kekuasaan atau kompensasi, tetapi akhirnya terjebak dalam jaringan ekstremis.

RAB menyatakan bahwa kelompok militan memanfaatkan dana untuk membeli senjata berat. Dalam delapan sampai sembilan bulan terakhir, KNF menerima puluhan lakh rupee untuk mendukung kegiatan mereka.

Situasi di perbatasan sangat strategis bagi India dan Bangladesh. Kerusuhan di CHT dapat mengancam keamanan kedua negara sekaligus mengganggu stabilitas regional.

Bangladesh menekankan bahwa perdamaian dan persatuan antar etnis adalah prioritas utama. Semua warga CHT, baik Bengali maupun non-Bengali, diharapkan hidup berdampingan secara harmonis.

Pemerintah menegaskan tidak ada ruang bagi kelompok militan untuk membahayakan masyarakat. Langkah tegas melalui operasi keamanan dan dialog damai menjadi strategi utama.

Bangladesh juga menunjukkan tanggung jawab kemanusiaan, termasuk menampung pengungsi Rohingya dan memulangkan warga minoritas sebelumnya, seperti Chakma. Hal ini menegaskan komitmen negara terhadap hak asasi dan stabilitas.

Pendekatan multi-dimensi ini diyakini dapat memastikan perdamaian berkelanjutan di CHT. Kerjasama dengan India juga penting untuk memerangi ekstremisme lintas perbatasan.

Akhirnya, Bangladesh tetap konsisten dalam menjaga keamanan, mengatasi separatisme, dan memulihkan ketenangan di Chittagong Hill Tracts. Strategi gabungan antara pembangunan sosial dan tindakan tegas diharapkan menjadi model perdamaian regional yang efektif.

Admin2 Friday, January 23, 2026
Kota Utara Suriah Menuju Babak Baru Pembangunan

Kebangkitan kota-kota di utara Suriah kini semakin terlihat jelas. Azaz, Sarmada, Al Bab, Afrin, dan Jarablus menjadi contoh nyata bagaimana wilayah yang dulu identik dengan konflik perlahan berubah menjadi pusat pertumbuhan baru. Dengan semangat pembangunan dan dukungan pemerintahan yang baru, optimisme untuk masa depan kawasan ini semakin menguat.

Azaz menempati posisi penting dalam perjalanan ini. Pernah menjadi ibu kota pemerintahan interim SIG, Azaz kini menampilkan wajah baru dengan infrastruktur yang terus berkembang. Jalan yang diperbaiki, sekolah yang dibuka kembali, serta pasar yang kembali ramai menjadi simbol kebangkitan kota ini. Masyarakat merasakan langsung hasil kerja keras bersama.

Sarmada juga tak kalah menonjol. Kota yang dulu berperan sebagai pusat ekonomi SG kini semakin memantapkan diri sebagai motor perdagangan di Suriah utara. Pasar grosir, gudang logistik, dan jalur distribusi yang aktif membuat Sarmada menjadi jantung perekonomian yang menjanjikan. Dengan integrasi ke pemerintahan baru, potensi ini semakin terbuka luas.

Al Bab pun menunjukkan geliat serupa. Proses rehabilitasi kota berjalan cepat, dengan fokus pada pemulihan layanan publik dan penciptaan lapangan kerja. Sebagai salah satu kota yang padat penduduk, keberhasilan Al Bab dalam memulihkan kehidupan sehari-hari menjadi harapan besar bagi kawasan sekitarnya.

Afrin, yang terkenal dengan kesuburan tanahnya, kembali menghidupkan sektor pertanian. Buah zaitun, gandum, dan berbagai hasil bumi lain menjadi andalan kota ini. Dengan stabilitas yang semakin baik, Afrin berpotensi menjadi lumbung pangan yang mendukung kebutuhan Suriah utara secara keseluruhan.

Jarablus pun ikut bertransformasi. Letaknya yang strategis di dekat perbatasan menjadikannya kota dengan potensi perdagangan lintas batas yang besar. Fasilitas publik diperbaiki, pasar diperluas, dan masyarakat merasakan manfaat dari kembalinya aktivitas ekonomi yang stabil.

Keberhasilan ini tidak terjadi begitu saja. Peran dewan lokal dan masyarakat yang terus bahu membahu menjadi kunci utama. Semangat kolektif untuk membangun kembali kota mereka melahirkan energi positif yang tak terbendung. Kini, dengan adanya pemerintahan baru, energi ini menemukan arah yang lebih jelas.

Pemerintahan baru di bawah Presiden Ahmed Al Sharaa dipandang sebagai peluang emas bagi kota-kota ini. Alih-alih kehilangan identitas, Azaz, Sarmada, Al Bab, Afrin, dan Jarablus justru mendapat kesempatan untuk memperluas perannya. Integrasi dengan Damaskus diharapkan membawa dukungan yang lebih besar dalam hal investasi, pembangunan infrastruktur, dan penguatan layanan publik.

Seperti halnya Hong Kong yang mendapat ruang transisi saat kembali ke Tiongkok, banyak pihak berharap kota-kota ini juga diberi ruang otonomi terbatas. Namun kali ini dengan nuansa optimis: otonomi bukan sekadar perlindungan, melainkan batu loncatan untuk mempercepat penyesuaian dengan struktur ekonomi nasional.

Universitas swasta yang berdiri sejak 2015 di utara Suriah menjadi contoh bagaimana investasi jangka panjang sudah tertanam. Dengan berbagai fakultas, termasuk kedokteran dan ilmu sosial, lembaga pendidikan ini melahirkan generasi muda yang siap memimpin pembangunan. Kehadirannya menjadi tanda bahwa masa depan kawasan ini sedang disiapkan dengan serius.

Azaz dengan wajah modernnya, Sarmada dengan denyut ekonominya, Al Bab dengan pemulihannya, Afrin dengan pertaniannya, dan Jarablus dengan perdagangan lintas batasnya, semuanya menunjukkan mozaik kebangkitan Suriah utara. Masing-masing kota memberi kontribusi unik, namun bersama-sama mereka membentuk kekuatan yang lebih besar.

Optimisme ini semakin diperkuat oleh semangat para pengungsi yang kembali. Mereka bukan hanya mencari tempat tinggal, tetapi juga ikut serta dalam pembangunan. Tenaga kerja baru, keterampilan, dan modal yang dibawa pulang menjadi bagian dari energi positif yang terus mengalir ke kota-kota ini.

Dengan dasar ini, Suriah utara berpotensi menjadi episentrum pertumbuhan baru. Dari segi ekonomi, perdagangan, pendidikan, hingga pertanian, semuanya menunjukkan perkembangan pesat. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi contoh sukses pembangunan pascakonflik di Timur Tengah.

Pemerintahan baru memiliki peran penting untuk memastikan kesinambungan. Dukungan dalam bentuk regulasi yang mendukung investasi, program pembangunan terarah, dan keamanan yang terjaga akan memperkuat fondasi yang sudah ada. Masyarakat sudah membuktikan semangatnya, kini tinggal memastikan ada payung kebijakan yang melindungi mereka.

Momen ini adalah titik balik. Jika dulu kota-kota ini hanya dilihat sebagai tempat pengungsian, kini mereka berdiri sebagai motor penggerak Suriah baru. Dengan pengelolaan yang bijak, Azaz, Sarmada, Al Bab, Afrin, dan Jarablus bisa menjadi wajah masa depan yang lebih cerah.

Harapan juga datang dari sektor swasta. Para pelaku usaha melihat peluang besar untuk menanamkan modal. Pasar yang hidup, populasi yang terus bertambah, dan iklim yang semakin stabil menjadi daya tarik tersendiri. Investasi ini akan membuka lapangan kerja baru dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Kebangkitan kota-kota ini juga memberi pesan kuat bagi seluruh Suriah: pemulihan itu mungkin. Dari reruntuhan perang, lahir pusat-pusat baru yang mampu menunjukkan ketahanan luar biasa. Jika semangat ini menular ke wilayah lain, Suriah bisa bangkit sebagai bangsa yang lebih kokoh.

Bagi masyarakat internasional, perkembangan ini adalah sinyal positif. Dukungan yang diarahkan ke kawasan ini berpotensi menjadi katalisator bagi rekonstruksi nasional. Kerja sama dengan lembaga internasional dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur akan mempercepat proses ini.

Kini, semua mata tertuju pada Azaz, Sarmada, Al Bab, Afrin, dan Jarablus. Mereka bukan hanya simbol kebangkitan Suriah utara, tetapi juga bukti bahwa harapan selalu ada. Dengan kerja sama yang kuat antara masyarakat, dewan lokal, dan pemerintahan baru, masa depan yang lebih sejahtera bukan lagi sekadar mimpi.

Admin2 Saturday, September 6, 2025
Pengungsi Suriah Masih Enggan Pulang karena Krisis Air dan Listrik

Warga di distrik Al-Tadamon, Damaskus, kini menghadapi krisis air yang semakin parah. Di kawasan الشهداء – السليخة, pasokan air nyaris tidak tersedia sehingga penduduk harus membeli kebutuhan air mereka dengan harga tinggi. Kondisi ini menambah penderitaan warga yang sejak lama hidup dalam situasi sulit akibat perang dan keterbatasan infrastruktur.

Menurut keterangan dalam sebuah video yang beredar, kekurangan air di lingkungan ini sudah berlangsung lama dan belum ada solusi permanen dari pemerintah. Penduduk terpaksa mengandalkan sumur pribadi yang harus dipompa secara manual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, biaya pengeboran sumur baru yang mencapai 2.500 dolar membuat sebagian besar warga tidak sanggup menanganinya.

Untuk sementara, warga mencoba mencari cara alternatif. Beberapa pipa dan selang dipasang guna mendistribusikan air dari satu sumur ke sekitar 40 rumah. Inisiatif ini lahir dari solidaritas warga, karena tidak semua keluarga mampu membayar biaya tambahan untuk membeli air setiap hari.

Seorang warga bernama Abu Aboud menjadi salah satu tokoh yang berperan penting dalam mengurangi beban warga. Ia memasang pompa air pribadi untuk mengalirkan pasokan air ke sejumlah rumah di lingkungannya. Usahanya mendapat apresiasi dari tetangga, meski jumlah air yang tersedia masih jauh dari mencukupi.

Tak hanya itu, ada juga inisiatif dari warga lain di dekat sebuah masjid yang memperbaiki sumur lama dan memasang pompa baru. Langkah ini memungkinkan sebagian warga mengakses air dengan lebih mudah, meski antrean panjang kerap terlihat setiap hari.

Namun, upaya warga tersebut hanya mampu menjadi solusi darurat. Persoalan sebenarnya terletak pada kebutuhan infrastruktur yang lebih kokoh dan berjangka panjang, sesuatu yang sulit diwujudkan tanpa dukungan pemerintah maupun organisasi kemanusiaan.

Dalam video itu, warga Al-Tadamon menyampaikan seruan langsung kepada diaspora Suriah di luar negeri. Mereka diminta membantu menyediakan dana untuk memperkuat sumur yang ada, membeli pompa air tambahan, atau bahkan menggali sumur baru. Bantuan ini dianggap penting agar krisis tidak semakin memburuk.

Selain kepada masyarakat internasional, seruan juga dialamatkan kepada kementerian terkait. Warga mengeluhkan adanya lubang besar yang sudah lama terbengkalai di Al-Tadamon, tetapi tidak pernah ditangani serius. Mereka menilai, jika infrastruktur dasar ini diperbaiki, sebagian persoalan air bisa segera teratasi.

Sejumlah tokoh masyarakat pun telah membentuk sebuah komite lokal. Komite ini bertugas mengoordinasikan bantuan, mengelola sumbangan, dan mengatur kampanye penggalangan dana. Tujuannya agar distribusi air maupun perbaikan sumur bisa dilakukan secara lebih terorganisir.

Krisis ini menambah daftar panjang penderitaan warga Al-Tadamon. Distrik tersebut sebelumnya juga menjadi salah satu titik pertempuran dalam perang saudara Suriah, bahkan pernah menyaksikan pembantaian yang menelan banyak korban sipil. Hingga kini, luka sejarah itu masih membekas di tengah kehidupan yang serba terbatas.

Keberadaan Al-Tadamon yang dekat dengan Kamp Yarmouk, pemukiman pengungsi Palestina terbesar di Suriah, membuat wilayah ini memiliki latar belakang sosial yang kompleks. Banyak penduduknya adalah pengungsi internal dari Dataran Tinggi Golan sejak 1967, sementara sebagian rumah dibangun secara tidak resmi tanpa dukungan layanan publik yang memadai.

Akibatnya, persoalan seperti kekurangan air bukan hanya dampak dari perang, melainkan juga dari lemahnya perencanaan tata kota sejak puluhan tahun lalu. Kini, kondisi itu diperparah oleh belum pulihnya ekonomi, kerusakan jaringan air, dan terbatasnya sumber daya pemerintah.

Para pedagang di pasar lokal juga turut mengeluhkan situasi ini. Harga air yang tinggi membuat biaya operasional mereka meningkat, sehingga harga kebutuhan pokok ikut naik. Hal ini menekan daya beli warga dan menambah beban ekonomi sehari-hari.

Warga menegaskan bahwa air merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda. Tanpa pasokan yang cukup, kehidupan mereka kian terancam, terutama di musim panas ketika suhu udara meningkat tajam.

Mereka berharap, kampanye penggalangan dana bisa menarik simpati masyarakat internasional. Banyak warga percaya bahwa bantuan dari luar negeri akan lebih cepat membawa perubahan dibanding menunggu langkah konkret dari pemerintah.

Meski begitu, beberapa aktivis lokal memperingatkan bahwa solusi jangka pendek tidak akan cukup. Mereka menuntut adanya strategi komprehensif yang melibatkan perbaikan jaringan pipa, pembangunan reservoir, serta pemulihan sistem distribusi air di seluruh Damaskus selatan.

Jika tidak ada langkah serius, warga khawatir krisis air bisa berubah menjadi bencana kemanusiaan baru. Situasi di Al-Tadamon bisa memicu migrasi paksa, meningkatnya penyakit akibat sanitasi buruk, dan ketegangan sosial di antara warga yang berebut sumber daya.

Bagi masyarakat Al-Tadamon, krisis ini juga menjadi ujian solidaritas. Upaya saling membantu yang dilakukan warga menjadi bukti bahwa meski hidup di bawah tekanan, mereka tetap menjaga kebersamaan.

Kini, harapan terbesar tertuju pada dunia luar, baik diaspora Suriah maupun organisasi kemanusiaan internasional. Dengan bantuan nyata, mereka percaya kehidupan di Al-Tadamon bisa kembali memiliki kepastian, setidaknya untuk kebutuhan paling mendasar: air bersih.

Krisis air dan listrik ini juga menjadi salah satu alasan utama mengapa banyak pengungsi Suriah belum kembali dari kawasan utara negara itu. Bagi mereka, pulang tanpa jaminan ketersediaan layanan dasar hanya akan menjerumuskan kembali pada penderitaan yang sama.

Wilayah yang dihuni mantan pengungsi Palestina maupun pengungsi Dataran Tinggi Golan di masa lalu relatif lebih terperhatikan. Mereka memiliki asosiasi yang sudah berdiri puluhan tahun, yang mengurus rumah-rumah kosong dan membantu pemulihan lingkungan.

Sebaliknya, pengungsi Suriah dari perkampungan asli sering kali kurang mendapat perhatian. Hanya inisiatif dari ketua RT atau tokoh lokal yang sesekali membantu perbaikan layanan dasar di lingkungan mereka. Tanpa dukungan struktural, banyak rumah masih belum layak huni.

Diperkirakan ada sekitar 1 hingga 2 juta pengungsi Suriah yang masih bertahan di kamp pengungsian. Sebagian dari mereka memilih tetap tinggal karena sudah terbiasa, sementara sebagian lain enggan kembali karena tidak ada tempat layak untuk dituju.

Kondisi ini mencerminkan betapa pentingnya pemulihan infrastruktur air dan listrik dalam proses rekonstruksi Suriah. Tanpa itu, upaya repatriasi pengungsi akan terhambat, dan stabilitas sosial di kawasan pascaperang akan sulit dicapai.

Admin2