Sebuah pernyataan resmi yang beredar luas di Al-Hasakah, Suriah, mencerminkan meningkatnya ketegangan antara warga sipil dan kelompok bersenjata non-negara di wilayah tersebut. Dokumen itu disampaikan oleh aktivis dan komunitas masyarakat setempat sebagai bentuk protes terbuka terhadap tindakan kekerasan dan penangkapan yang menimpa warga sipil.
Dalam pernyataan itu, masyarakat Al-Hasakah menegaskan bahwa mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk kembalinya hukum dan kedaulatan negara secara utuh. Kembalinya institusi nasional dan pasukan keamanan Suriah dipandang sebagai momen penting yang lama dinantikan setelah masa panjang ketidakpastian.
Euforia warga saat menyambut aparat negara digambarkan sebagai luapan harapan akan kehidupan yang lebih aman dan tertib. Bagi banyak warga, kehadiran negara diyakini sebagai awal dari berakhirnya praktik kekuasaan bersenjata yang selama ini dirasakan menekan kehidupan sipil.
Namun, harapan tersebut berubah menjadi kemarahan setelah terjadi insiden kekerasan. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa kelompok SDF dan milisi afiliasinya melakukan penyerangan brutal terhadap warga sipil yang merayakan kembalinya institusi negara.
Warga juga melaporkan adanya penangkapan terhadap puluhan pemuda dan aktivis. Penangkapan itu, menurut pernyataan tersebut, dilakukan semata-mata karena mereka mengekspresikan dukungan terhadap pasukan keamanan dalam negeri dan simbol-simbol kedaulatan negara.
Tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kebebasan sipil dan hak dasar warga. Masyarakat menilai bahwa kekerasan terhadap warga yang tidak bersenjata memperlihatkan rapuhnya jaminan keamanan di tengah proses transisi yang sedang berlangsung.
Dalam dokumen itu, kritik tajam diarahkan kepada pemerintah Suriah. Warga menuntut agar pemerintah tidak bersikap pasif atau sekadar menjadi penonton ketika pendukung dan warganya sendiri menjadi korban kekerasan dan penahanan sewenang-wenang.
Masyarakat menekankan bahwa kedaulatan negara tidak cukup diwujudkan dengan pengibaran bendera atau kehadiran simbol formal semata. Menurut mereka, kedaulatan sejati hanya bermakna jika negara mampu melindungi warga yang berlindung di bawah bendera tersebut.
Pernyataan itu juga menolak segala bentuk kesepakatan keamanan yang mengabaikan keselamatan warga sipil. Masyarakat Hasakah menilai bahwa perjanjian apa pun tidak akan memiliki legitimasi jika mengorbankan kebebasan dan keamanan rakyat.
Isu pembebasan tahanan menjadi salah satu tuntutan utama. Warga mendesak pemerintah Suriah untuk segera turun tangan membebaskan semua pemuda dan aktivis yang ditahan, serta menghentikan praktik penangkapan tanpa dasar hukum yang jelas.
Selain itu, mereka menuntut jaminan kebebasan bergerak dan berpendapat bagi seluruh warga. Menurut pernyataan tersebut, rasa aman tidak mungkin terwujud selama warga masih takut mengekspresikan sikap politik atau sosialnya.
Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran politik di tingkat lokal. Warga tidak hanya menuntut keamanan fisik, tetapi juga penghormatan terhadap martabat dan hak-hak sipil sebagai warga negara.
Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan tersebut menunjukkan adanya jurang kepercayaan antara masyarakat sipil dan struktur kekuasaan bersenjata non-negara. Jurang ini semakin tampak ketika warga secara terbuka menyatakan loyalitasnya kepada institusi negara.
Masyarakat Hasakah juga memberi peringatan bahwa kesabaran publik memiliki batas. Mereka menilai bahwa penundaan dan ketidakjelasan sikap pemerintah hanya akan memperburuk situasi di lapangan.
Nada pernyataan itu menggambarkan urgensi tindakan nyata. Warga menuntut langkah konkret, bukan sekadar janji atau pernyataan politik, untuk memulihkan wibawa hukum dan rasa aman.
Dokumen tersebut sekaligus menjadi ujian bagi pemerintah Suriah dalam fase transisi ini. Keberhasilan atau kegagalan merespons tuntutan warga akan sangat menentukan tingkat kepercayaan publik di wilayah timur laut.
Pengamat menilai bahwa Hasakah kini menjadi indikator penting bagi proses konsolidasi negara. Cara pemerintah menangani keluhan warga sipil akan menjadi preseden bagi wilayah lain dengan dinamika serupa.
Di tengah kompleksitas keamanan dan politik, pernyataan warga Hasakah memperlihatkan bahwa masyarakat sipil ingin menjadi subjek, bukan objek, dalam proses penataan ulang kekuasaan.
Mereka menuntut negara hadir tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pelindung nyata dari kekerasan dan kesewenang-wenangan. Harapan ini menjadi benang merah dari seluruh isi pernyataan.
Pada bagian penutup, dokumen tersebut menegaskan kembali komitmen warga terhadap persatuan nasional. Pernyataan diakhiri dengan slogan yang mencerminkan aspirasi kolektif mereka, “Hidup Suriah, dan hiduplah rakyatnya yang aman dan mulia.”
Seruan ini menandai babak baru dalam relasi antara warga Hasakah dan negara, di mana tuntutan keamanan, keadilan, dan martabat menjadi pusat dari harapan masyarakat terhadap masa depan Suriah.
Warga Hasakah Suriah Tuntut Negara Hadir Tindak SDF
Admin2
Monday, February 2, 2026